ФФФФФФФФФФФФФФФФФФФФФФФФФФФФФФФФФФФФФФФФФ

20 Ways To Increase Your Traffic And Sales With eBooks

1. People love to get free stuff. A free eBook is perfect. They will visit your web site to get the free valuable information.

2. Give away the full version of your eBook in exchange for testimonials. You can use these customer statements to improve your ads' effectiveness.

3. When you write and give away a free eBook you will become known as an expert. This will gain people's trust and they will buy your main
product or service quicker.

4. Publish your web site in eBook format. Put the eBook on a disk or CD-ROM then include it with your direct mail packages. This can increase the number of people that buy your product or service.

5. Offer your eBook as a free bonus for buying one of your main products or services. People will buy the product or service more often when you offer a free bonus.

6. Allow people to download your eBook for free, if they give the e-mail addresses of 3 to 5 friends or associates that would be interested in your eBook. This will quickly build your e-mail list.

7. Create a directory of web sites in eBook form. List peoples web sites in the directory that will agree to advertise the eBook on their web site or e-zine. This will give them an incentive to give away or advertise your eBook.

8. Allow other people to give away your free eBook. This will increase the number of people that will see your ad in the eBook. You could
also include a mini catalog of all your product or services that you offer in the eBook.

9. Gain new leads by having people sign up and give you their contact information before they can download your eBook. This is a very effective way to conduct market research.

10. Make money selling advertising space in your eBook. You could charge for full page color ads, classified ads or banners ads. You could also trade advertising space in your eBook for other
forms of advertising.

11. Give away the eBook as a gift to your current customers as a way of letting them know you appreciate their business. Place an ad in the eBook for a new back end product you're offering

12. Get free advertising by submitting your eBook to freebie and freeware/shareware web sites. This will increase the number of people that will down-load your eBook and see your ad.

13. Make money by selling the reprint rights to those that would like to sell the eBook. You could also make even more money by selling the master rights. This would allow other people to sell the reprint rights.

14. Hold a contest on your web site so people can win your eBook. You'll get free advertising by submitting your contest ad to free contest or sweepstakes directories.

15. You will gain valuable referrals from people telling others about your eBook. Word of mouth advertising can be very effective.

16. Make money cross promoting your eBook with other people's products or services. This technique will double your marketing effort with-
out spending more time and money on your part.

17. Increase your e-zine subscribers by giving away your eBook to people that subscribe to your e-zine. This will give people an incentive to subscribe. Allow your e-zine subscribers to also
give it away to multiply your subscribers.

18. Give away the eBook to people that join your affiliate program. This will increase the number of people that sign-up You could also create an eBook for them to use that will help them promote
your product or service

19 Give away the eBook in exchange for people leaving their contact information This will help you follow-up with the prospects who buy your main product or service.

20. Offer a free eBook that contains a couple of sample chapters. If they like it, give them the option of ordering the full version. It would work just like a software demo or shareware.
Adsense Indonesia
Berpikir Kritis

Dengan maraknya milis dan forum diskusi yang berkomentar mengenai berbagai gejala, ada satu hal yang semakin mudah diakses, sehingga siapa saja, asal mau, bisa mempertanyakan situasi, keputusan dan segala macam pernyataan dan fenomena yang ada. Bukan saja pertanyaan, ungkapan perasaan, ketidaksesuaian pendapat, bahkan tuntutan juga terdengar, terbaca dan terlihat. Simak saja wacana mengenai arus minyak Nasional, yang melibatkan protest mahasiswa, DPR, partai, badan eksekutif dan masyarakat banyak. Pertanda apakah ini ? Selain demokrasi, kita bisa beranggapan bahwa generasi muda, yang akan menghadapi abad selanjutnya, sudah mempunyai daya pikir yang lebih “advanced”.”Good thinking is an important element of life success in the information age,” demikian ujar Thomas εt Smoot (1994).
Kita pasti setuju bahwa kegiatan berfikir adalah kegiatan yang super mulia dan merupakan anugerah Tuhan yang paling besar bagi manusia, karena tidak ada makhluk lain di dunia ini yang bisa berpikir dengan cara secanggih manusia. Dengan adanya kegiatan berpikirlah manusia mampu menggambarkan isi dunia ini. Dan, dengan adanya pemikiran-pemikiran yang sudah diuji, di bolak-balik dan dikulik di masyarakat, kita bisa yakin bahwa bangsa kita sudah mengalami kemajuan dalam proses berfikirnya.
Sikap Mental untuk Berbeda Pendapat
Aturan dan tata karma yang diajarkan orang tua dan guru kita dulu, misalnya untuk tidak membantah, tidak berdebat untuk menjujung harmoni, kita sadari ternyata tidak selamanya menyuburkan cara berfikir. Kita sering lupa bahwa kita punya kewajiban untuk mengasah cara pikir kita, baik di sekolah maupun setelah keluar dari system pendidikan. Dalam perjalanan hidup, saya menyaksikan bahwa kesempatan untuk menumbuhkan dan mematangkan keputusan dan konsep justru dari di-“adu-“nya pendapat kita dengan kritik, pertanyaan, keraguan orang lain, bahkan setelah perdebatan sengit. Yang paling penting, sikap mental juga perlu kita siapkan untuk memberi dan menerima kritik serta sanggahan.
Para ahli menyarankan agar berfokus pada isu dan bukan pada orangnya, sebagai landasan sikap rasional yang perlu dikembangkan dalam “menembak” masalah,”menelurkan” solusi, dan bukan mengumbar emosi serta kesalahan. Di sini, kita pun bisa mawas diri bahwa kita sering terjebak berselisih pendapat, karena kita tidak “sealiran” atau tidak menyukai individu yang berpendapat.
Saat sekarang, kita juga semakin sadar bahwa sekadar “asbun” (asal bunyi, asal ngomong), tanpa berlatih tanggung jawab terhadap tindak lanjut pendapatnya, malahan bisa menjatuhkan harga diri dan kewibawaan kita sendiri. Namun demikian, memang masih banyak kita temui orang yang berpendapat tetapi tidak bertanggung jawab, misalnya, seorang sales manager yang mengatakan, “Di perusahaan ini, system administrasi kacau. Masakan tanda terima barang bisa ditandatangani oleh seorang salesman tanpa diketahui oleh penerima barangnya”.Pernyataan yang dilempar tanpa memikirkan follow up, sekadar menyulitkan orang lain dan tanpa disertai tanggung jawab untuk mencari solusi bukanlah pembuka diskusi yang sehat. Individu yang ingin masuk ke dalam kancah perdebatan intelektual, perlu berlatih mencermati gejala, tulisan, tindakan atau keputusan dengan hati-hati,”dalam” dan berusaha mendapatkan “point” dari isu tersebut. Seruan misalnya “turunkan BBM”,”turunkan harga sembako” akan lebih intelek bila yang berseru sudah mempelajari, apakah gejala kenaikan BBM ini melulu disebabkan oleh korupsi atau gejala yang mendunia. Kita pun perlu membedakan fakta dari pendapat, kasus dari gejala umum, membersihkan “bias” selain juga tidak berpikir “hitam putih” saja, dan membuka diri terhadap segala kemungkinan yang kita sebelumnya tidak tahu.
Pemikir Sehat
Individu, tidak terlepas berapa usianya, sering tidak menyadari kesalahan berpikirnya. Ada yang dari muda sampai tua tetap keras kepala. Ada juga yang tidak pernah sadar bahwa ia “sok tahu”, meyakini sesuatu tanpa pernah meng-update ataupun mengecek kebenaranya lebih lanjut. Banyak juga orang berasumsi bahwa kekuatan berpikir berkorelasi besar dengan IQ, tingkat kecerdasan. Bila ada orang pintar berpendapat, orang cenderung meng-iya-kan, dan setuju. Fenomena “tunduk pada yang cerdas” ini sering menumbuhkan sikap submisif dalam kegiatan mengasah cara pikir kita. Sebenarnya cara berpikir bisa dikembangkan dengan cara yang sangat simple: memelihara kegiatan mempertanyakan, beranggapan bahwa setiap kebenaran itu sementara, dan bersikap “undogmatic”. Kegiatan ini sudah bisa kita amati di acara-acara debat di televisi maupun radio. Hanya saja, kalau benar-benar ingin sehat kitapun perlu menyadari bahwa otak hanya bisa menyerap sedikit informasi dibandingkan informasi yang tersedia, mengenai suatu isu. Dengan keterbatasannya, otak sering melakukan “oversimplifications” yang berakibat pada penyaringan fakta, keterbatasan berfikir, dan bahkan tercampurnya fakta, asumsi, maupun keyakinan individu. Berarti, bila kita ingin diterima sebagai pemikir obyektif, kita pun perlu siap membuka pikiran seperti layaknya seorang anak sekolah, menyerap informasi sebanyak-banyaknya, baru kemudian memilah dan menyaring sehingga presisi, akurasi, relevansi, logika dan kedalaman bisa tercapai secara optimal.
Mendorong Pencerdasan Bangsa
Saat sekarang, dimana semakin marak sekolah nasional plus, universitas swasta yang harganya bahkan bersaing dengan universitas negeri, gratisnya biaya sekolah, sangat menjanjikan tercapainya pencerdasan bangsa. Sudah waktunya kita bisa berharap untuk berada di kancah berpikir yang obyektif, “terang” dan positif. Meskipun kebenaran tidak disajikan begitu saja, tetapi perlu dikorek-korek, dipikirkan, diendapkan dan dicocokkan, namun kita sudah boleh berharap berdiskusi dalam tingkatan yang sama, tidak meraba dalam gelap, penuh kerendahan hati tetapi tetap siap untuk memodifikasi alam pikir kita. Dengan cara inilah kita maju dan jadi pintar, sambil tetap perlu mempunyai ‘ruang’ untuk berfikir inovatif dan kreatif.
Related Site:
http://pendidikannas.blogspot.com/